Back To Top

Terima kasih telah berkunjung ke blog yang serba serbi ini. Selamat menikmati suguhan sederhananya. Semoga berkenan kembali lagi di lain kesempatan ^_^

Minggu, 04 Februari 2018

Misteri Rumah Kost Sebelah oleh Wardatul Aini

“Aaaaaaaaaaaaaaaa...,” suara cempreng khasnya Dinda terdengar sampai ke dapur.
“It... itu... suara...Din,” Sasa, Tania, Suci dan Mirna gagap sambil saling tunjuk.
Tadi sepulang dari warnet Dinda sempat memergoki sesosok bayangan di depan rumah kost. Tidak mau menyimpan rasa takut seorang diri, Dinda berbagi cerita pada keempat teman kost-nya. Sejam kemudian, hal yang sama dipergoki oleh Tania. Sewaktu akan menggembok sepeda motornya, tanpa  sengaja mata Tania menangkap sesosok bayangan dengan ciri-ciri sama persis seperti dalam cerita Dinda. Dengan wajah pucat pasi, Tania kembali ke belakang dan mencertakan perihal tersebut pada yang lain.
“Kenapa, Din. Mana pencurinya? Kamu gak kenapa-kenapa, 'kan?” 
“Itu. Aaaaaaa....”
“Mana, mana pencurinya?”
“Jangan-jangan....”
“Hantu!” teriak Tania, Mirna dan suci berbarengan.
“Apaaan sih kalian! Aku digigit semut tahu. Kakiku sakit,” sungut Dinda, lantas beranjak pergi meninggalkan keempat temannya dengan wajah bengong.
"Oalah", keempat anak manusia itu mendesah kesal. Padahal saat mendengar teriakan Dinda jantung mereka bergedub cepat barangkali sosok bayangan yang dicurigai sebagai pencuri muncul di hadapan Dinda. Tahu-tahunya, Dinda HANYA digigit semut. 
Huffff!
Biarpun demikian, misi tetap dilanjutkan. Memecahkan misteri sosok bayangan yang muncul di halaman rumah kost. Kelima gadis itu masih penasaran dengan sosok bayangan yang malam ini sudah terlihat dua kali di halaman rumah kost mereka.
“Yakin kita ngumpet di sini? Banyak nyamuk.”
“Sabarlah, Tan. Protes mulu kamu,” timpal Sasa.
Jam menunjukkan pukul 23.25 WIB. Kelima gadis itu masih bersembunyi di balik jejeran pot bunga di sudut kanan rumah kost. Tania berkali-kali mengangkat bendera putih  yang artinya dia sudah menyerah. Keinginannya ditentang oleh Sasa, gadis bertubuh bongsor yang ditunjuk sebagai tetua di kost tersebut..
“Kalau tetua yang ngomong harus nurut. Sekali nggak boleh, ya nggak boleh.”
Tepat jam 23.59 WIB, lolongan anjing mulai bersahut-sahutan dan terdengar sangat jelas. Hawa dingin membuat suasana tercium sangat angker, sepoi-sepoi hembusan angin membuat bulu kuduk merinding. Sosok bayangan yang ditunggu tak juga kunjung hadir.
“Malam ini malam apa?”
“Malam jumat,” jawab Dinda cepat.
“Apa? Malam jumat? Lolongan Anjing? Ayolah, udahan aja. please.” 
Di antara remang-remang cahaya rembulan, terlihat jelas tubuh Tania yang gemetaran, suaranya juga parau. Gadis itu terkenal sangat penakut.
Tanpa mengindahkan lagi perintah Sasa, pelan Tania membalikkan badan.
“Whoaaaaaaa...,” teriak Tania kuat. 
            Latah, Sasa langsung mendaratkan sebuah pukulan tepat di pundak makhluk yang mereka tidak tahu berjenis apa. Pocong? Bukan? Kuntilanak? Bukan juga? Saat Tania membalikkan tubuh beberapa detik sebelumnya, makhluk itu berdiri tepat di hadapannya, hanya berjarak sekitar sepuluh centimeter. Tanpa ba bi bu, Sasa selanjutnya melepaskan kain sarung yang dipakai sebagai penutup wajah, terlihatlah oleh mereka, makhluk yang hampir membuat jantung Tania copot adalah seorang lelaki. Untuk melumpuhkan lawan, Sasa kembali menghadiahi lelaki itu beberapa pukulan. Selang beberapa waktu, tibalah pak RT beserta para pemuda kampung.
“Benar itu orangnya?” tanya pak RT pada perempuan cantik yang berumur sekitar dua puluh tahun, perempuan itu mengangguk.
Ternyata dan ternyata, lelaki itu bukanlah pencuri. Lelaki dan perempuan itu ketahuan berdua-duaan di rumah kost sebelah, dua kali sebelumnya sempat dipergokoleh warga namun  lelaki itu berhasil kabur dan bersembunyi di halam rumah Sasa Cs. 
“Kirain pencuri, eh rupanya,” Tania mengurut dada. Malam ini ia bisa tidur terlelap. Bayangan yang mereka curigai sebagai hantu ternyata hanyalah lelaki yang sedang melarikan diri setelah kepergok warga.
Memangnya hantu ada bayangannya, ya? Hmmm.
Berkat keberanian Sasa yang mendaratkan pukulan pada lelaki yang sedang diburu itu, Pak RT menghargainya dengan mengundang mereka atas nama jamuan makan malam.
"Itu cowok dapat sarung darimana, ya?"

"Penting, ya, Ci?"

"Nggak sih. Tapi, kayaknya aku pernah deh lihat sarung itu. Tapi di mana, ya?"  

"Lah, itu, 'kan, sarungmu, Ci," timpal Tiara. Aura takut di wajahnya mulai menghilang.

"Oh, no," Suci melompat dari tempat duduknya lalu berlari keluar, tidak sampai tiga menit dia sudah kembali.

"Kenapa, Ci?" tanya Mirna begitu melihat wajah Suci yang tidak bersahabat.

"Benar itu sarungku," jelas Suci, "tadinya aku keluarin dari bagasi terus kuletakkan di atas jok kereta begitu masuk lupa pula aku bawa masuk," Suci memoyongkan bibirya sejauh tiga centimeter.

"Sudahlah, Ci. Anggap saja itu rezekinya pencuri," celoteh Dinda sekenanya.
“Tapi gak apa woi, yang penting malam besok kita diundang makan gratis ke rumah pak RT,” timpal Suci sumringah.
Bagi anak kost tiadalah yang lebih indah selain mendapat undangan makan gratis!