Mas Gagah oleh Wardatul Aini
“Aku
sedang tidak tidur, lah!” ujarku mempertegas.
Perempuan
bertubuh bongsor itu adalah sahabatku. Namanya Nami. Dia sedang tidak membangunkan
aku yang sedang tidur. Tapi, dia mencoba menyadarkanku yang belakangan ini
tergila-gila dengan tokoh mas Gagah.
Tokoh mas Gagah dalam novelet Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana
Rosa. Mas Gagah telah berhasil merobohkan pertahanan hati. Jauh beberapa tahun
silam, hati ini telah kugembok. Kuncinya kulempar entah kemana. Siapapun yang
berhasil menemukan kunci itu, dialah yang akan membuka gembok untuk kemudian
singgah, tepatnya menetap di hatiku!
“Mas
Gagah?” timpal Nami sinis.
Berkali-kali
dia sudah mengingatkan bahwa mas Gagah itu hanya ada dala noveletnya Helvy
Tiana Rosa. Tidak ada di dunia nyata! Bagaimana mungkin aku jatuh hati sampai
tergila-gila pada tokoh dalam cerita fiksi itu? Hamas? Dia bukanlah mas Gagah
yang sebenarnya. Dia adalah seseorang yang beruntung dipilih untuk memerankan
tokoh mas Gagah yang digambarkan secara sempurna. Kuakui, yang lain juga
mungkin membenarkan. Pada kenyataannya sedikit banyaknya dia mempunyai apa yang
dimiliki mas Gagah dalam novelet tersebut. Wajah yang tampan, semangat untuk
berdakwah, dan tentunya memiliki hafalan yang membuatnya terlihat sempurna!
Tetap saja dia bukan mas Gagah yang kumau!
Aku
mulai gila! Di belahan bumi mana aku bisa menemukan mas Gagah itu? Haruskah
kuciptakan dongen untuk kemudian aku mulai hidup disana? Selanjutnya, meracik
ramuan ajaib atau mencari petunjuk berupa peta yang akan memberi tahu dimana
mas Gagah berada.
“Berhentilah,
Din!” Nami menghepaskan tubuh bongsornya tepat di sampingku.
“Aku
akan berhenti, Mi. Tapi tidak untuk sekarang.”
Nami
menarik tubuhku. Memegang kedua pundak serta menatap tajam ke arahku. Tatapan
itu seakan hendak menerkam. “Berhentilah, Dinda!” katanya kemudian.
“Iy,
Mi. Sudah kukatakan, tidak untuk sekarang!”
Kemudian
gadis bertubuh bongsor itu beranjak bangun, meninggalkanku seorang diri di
kamar berukuran empat kali tiga meter ini.
Entahlah,
sampai kapan aku bertahan dalam dongeng yang kubuat-buat sendiri. Mungkin, saat
perasaan itu perlahan mati. Atau aku yang harus mati karena perasaan yang tak terbalas.
Yang jelas. Semua ini akan berakhir. Nanti!
GoresanTinta
Post @Ruwais Kupi
~Pelatihan Pembuatan dan Pengelolaan Website dan MEDIA SOSIAL SIT
