Back To Top

Terima kasih telah berkunjung ke blog yang serba serbi ini. Selamat menikmati suguhan sederhananya. Semoga berkenan kembali lagi di lain kesempatan ^_^

Jumat, 27 Oktober 2017

Mas Gagah oleh Wardatul Aini





“Bangun, Din!” perempuan bertubuh bongsor itu menggoyangkan tubuhku dengan sedikit keras.
“Aku sedang tidak tidur, lah!” ujarku mempertegas.
Perempuan bertubuh bongsor itu adalah sahabatku. Namanya Nami. Dia sedang tidak membangunkan aku yang sedang tidur. Tapi, dia mencoba menyadarkanku yang belakangan ini tergila-gila dengan tokoh mas Gagah.  Tokoh mas Gagah dalam novelet Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa. Mas Gagah telah berhasil merobohkan pertahanan hati. Jauh beberapa tahun silam, hati ini telah kugembok. Kuncinya kulempar entah kemana. Siapapun yang berhasil menemukan kunci itu, dialah yang akan membuka gembok untuk kemudian singgah, tepatnya menetap di hatiku!
“Mas Gagah?” timpal Nami sinis.
Berkali-kali dia sudah mengingatkan bahwa mas Gagah itu hanya ada dala noveletnya Helvy Tiana Rosa. Tidak ada di dunia nyata! Bagaimana mungkin aku jatuh hati sampai tergila-gila pada tokoh dalam cerita fiksi itu? Hamas? Dia bukanlah mas Gagah yang sebenarnya. Dia adalah seseorang yang beruntung dipilih untuk memerankan tokoh mas Gagah yang digambarkan secara sempurna. Kuakui, yang lain juga mungkin membenarkan. Pada kenyataannya sedikit banyaknya dia mempunyai apa yang dimiliki mas Gagah dalam novelet tersebut. Wajah yang tampan, semangat untuk berdakwah, dan tentunya memiliki hafalan yang membuatnya terlihat sempurna! Tetap saja dia bukan mas Gagah yang kumau!
Aku mulai gila! Di belahan bumi mana aku bisa menemukan mas Gagah itu? Haruskah kuciptakan dongen untuk kemudian aku mulai hidup disana? Selanjutnya, meracik ramuan ajaib atau mencari petunjuk berupa peta yang akan memberi tahu dimana mas Gagah berada.
“Berhentilah, Din!” Nami menghepaskan tubuh bongsornya tepat di sampingku.
“Aku akan berhenti, Mi. Tapi tidak untuk sekarang.”
Nami menarik tubuhku. Memegang kedua pundak serta menatap tajam ke arahku. Tatapan itu seakan hendak menerkam. “Berhentilah, Dinda!” katanya kemudian.
“Iy, Mi. Sudah kukatakan, tidak untuk sekarang!”
Kemudian gadis bertubuh bongsor itu beranjak bangun, meninggalkanku seorang diri di kamar berukuran empat kali tiga meter ini.
Entahlah, sampai kapan aku bertahan dalam dongeng yang kubuat-buat sendiri. Mungkin, saat perasaan itu perlahan mati. Atau aku yang harus mati karena perasaan yang tak terbalas. Yang jelas. Semua ini akan berakhir. Nanti!


GoresanTinta
Post @Ruwais Kupi
~Pelatihan Pembuatan dan Pengelolaan Website dan MEDIA SOSIAL SIT